80 Tahun RI dan Tantangan Besar SMPN 2 Bejen
Upacara peringatan Ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan RI di Desa Ngaliyan, sejak lebih dari dua dasawarsa lalu telah menjadi tradisi yang terus berkelanjutan sampai sekarang. Sejak Tahun 2023 bertambah dengan kerjasama dari Desa Duren. Kedua desa tersebut mengapit keberadaan SMPN 2 Bejen, Duren di sebelah barat, dan Ngaliyan di sebelah Timut.
Dengan berkolaborasi bersama organisasi pemerintahan dan berbagai komponen masyarakat, SMPN 2 Bejen melaksanakan tugas negara dengan penuh dedikasi.
Pasukan Pengibar Bendera atau Paskib bagi SMPN 2 Bejen merupakan salah satu bentuk Tanggung jawab sosial sebagai bagian dari lembaga milik negara sekaligus sebagai lembaga milik masyarakat.
Pendidikan yang mencakup keterampilan baris-baris, tata upacara bendera dan aspek-aspek kehidupan bernegara yang diajarkan di sekolah, sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya saat peringatan HUT Kemerdekaan.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika jumlah murid di SMPN 2 Bejen cukup banyak, pelaksanaan upacara dapat mengikut sertakan pasukan pengibar bendera yang cukup lengkap sebagaimana dalam upacara-upacara di tingkat Kecamatan -acuan ini menyesuaikan dengan keberadaan SMPN 2 Bejen-, meskipun harus melaksanakan di dua desa. Sedangkan pada tahun ini ada penurunan jumlah murid, sehingga hanya bisa membentuk pasukan inti di masing-masing desa.
Dengan bantuan pelatihan dari Koramil 14 Kecamatan Bejen, sejak awal Agustus sudah mulai dilaksanakan latihan. Sebelumnya sudah dilaksanakan seleksi sederhana oleh pembina di sekolah, dengan hanya mengetes kemampuan baris-berbaris dasar. Postur tubuh tidak menjadi perhatian yang mendalam, yang penting murid bisa dan mampu menjalankan tugas.
Dua orang instruktur dari Koramil, Bapak Suhardi dan Bapak Irawan, dengan didampingi para guru SMPN 2 Bejen setiap pagi, mulai dari jam 08.00 sampai dengan 11.00 WIB melaksanakan latihan di Lapangan Desa Duren.
Bukan tugas yang mudah, mengingat karakteristik Generasi Alpha, sebagaimana yang sudah banyak diketahui oleh masyarakat, di mana perkembangan mental dan emosionalnya sangat dipengaruhi oleh gadget dan lingkungan, daya serapnya terhadap instruksi dan pesan tak sebesar generasi sebelumnya, yaitu Generasi Z.
Kesabaran dan ketelatenan instruktur serta pendamping harus lebih banyak dicurahkan. Penerapan sangsi dalam penegakan kedisiplinan tak bisa lagi menggunakan cara-cara lama. Bahkan, penghargaan harus lebih banyak diberikan, sekalipun untuk hal-hal yang sebenarnya "biasa-biasa saja".
Sedikit kekeliruan, risikonya adalah kehilangan anggota pasukan, sementara tidak ada personel cadangan. "Bombongan" atau dorongan untuk membesarkan semangat dan menumbuhkan kesadaran harus terus-terus dan terus dilontarkan tiada henti, dalam arti sesungguhnya, bukan sekedar ungkapan estetis dalam kalimat.
Begitulah, hari H semakin dekat, tinggal berbilang hari, lebih tepatnya hingga tulisan ini tayang adalah 8 hari. Jika dikurangi dengan Minggu, maka tersisa 6 hari, dan dikurangi lagi dengan hari istirahat pada H-1 maka tersisa 5 hari.
Sebagai gambaran besarnya tantangan, kemampuan pasukan untuk jalan di tempat, hadap dan balik kiri-kanan, belok kiri dan belok kanan, masih ada yang belum paham, hanya mengikuti "tetangga sebelah".
Namun demikian, apapun kondisinya, optimisme tetap harus dikedepankan, dengan semangat juang pantang menyerah, disertai doa yang sungguh-sungguh, insya Allah pada saatnya nanti, Pasukan Pengibar Bendera SMPN 2 Bejen sudah siap menjalankan tugas dan dapat menunaikannya dengan baik.
Pekik penyemangat : "SMP 2 Bejen ! BISA!

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak untuk kebajikan kita.